Selamat datang di
Fashiongraphers, sebuah blog yang membahas seputar dunia fashion photography serta seluk beluknya, kami juga menyediakan beberapa item unik dan cantik yang bisa anda miliki dan pesan.

Facebook Pages

Popular Posts

Photobucket

Membeli tas kamera karena?

Tampilkan postingan dengan label fashion photography. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fashion photography. Tampilkan semua postingan

Foto Fashion, Tahun 1945 -1950

Selasa, 13 Desember 2011

Stanley Kubrick adalah seorang penulis dan sutradara terkenal untuk film seperti Lolita, Dr Strangelove, 2001: A Space Odyssey, A Clockwork Orange dan The Shining. Sebelum ia mulai karirnya sebagai sutradara , dia adalah seorang fotografer untuk majalah LOOK antara tahun 1945 dan 1950. Museum Kota New York dan VandM + baru-baru ini memilih 25 foto-foto Kubrick dari 10.000 negatif untukuntuk di jual dalam sebuah pelelangan, dan hampir keseluruhan dari hasil penjualan karyanya di sumbangkan pada Museum Kota New York.








Stanley Kubrick photos of new york (2)
Stanley Kubrick photos of new york (4)
Stanley Kubrick photos of new york (3)
Stanley Kubrick photos of new york (6)
Read Post | komentar

Terlalu memaksakan style dan egonya juga bisa merusak pasar

Jumat, 09 Desember 2011

Photographer yang terlalu memaksakan style dan egonya juga bisa merusak pasar. “tiap majalah, tiap brand punya market dan gayanya sendiri-sendiri. Jangan dipaksa, nanti produknya nggak laku. Dan kalau produknya nggak laku, industrinya mati fotorgafernya mau motret apa?”   pengetahuan tentang fashion justru menjadi harga mati bagi seorang fashion photographer. “Motret itu justru urusan paling terakhir. Cara kita  kerja, jual diri, trend dan pengetahuan tentang fashion itu jauh lebih awal.”  pengetahuan fashion seorang fashion photography nggak boleh ketinggalan dan kurang.  

“Prosesnya selalu mulai dari produk. Pemahaman produk itu paling awal. Setelah itu baru penggunaan teknis untuk menterjemahkan konsep.” .

. Kalau suka pasti datang dari dalam hati. Dan kalau dari dalam hati pasti jujur dan apa adanya. Jadi jangan ngomong style kamu seperti apa. Biar orang lain yang menilai.” Berbicara mengenai kontribusi fashion
stylist dalam sebuah pemotretan fashion , porsinya harus seimbang. Dan untuk bisa seimbang pengetahuan fashion sang photographer juga harus kuat, karena seorang fashion stylist pada umumnya memiliki wawasan fashion yang sangat baik dan up to date. “Dunia fashion terkadang kejam. Kalau sudah keluar omongan: ini bajunya last season banget ya? Wah bahaya sekali.”

Berbicara mengenai cara jualan ke majalah, ada dua cara yang bisa dilakukan. “Pilih majalah yang kita suka, pelajari gayanya seperti apa. lalu bikin yang seperti itu, lalu approach ke sana.”  “cara lain adalah berangkat
dari apa yang kita suka. Bikin saja apa yang kita suka dan coba tawarkan ke majalah.”  Namun begitu buat mereka yang sudah establish kadang terjadi yang disebut “product come to them”, artinya product yang menyesuaikan gaya sang fotografer.

 “Fashion photography ada uangnya asal jangan dihancurkan. Jangan sampai yang tidak cari uang di situ iseng-iseng masuk dengan harga cincai.Kasihan yang hidup di situ.”
“Kalau kita nurut dengan ladang masing-masing jadi tidak berantakan. Jangan lompat pagar dan ngacak-acak lading orang.”

Read Post | komentar

LUKI ALI, FASHION PHOTOGRAPHY YANG SEBENARNYA


Salah satu subject dalam fotografi yang tergolong banyak peminatnya adalah fashion photography. Kesan glamour & prestise yang seringkali melekat pada profesi fashion photographer seringkali menjadi magnet yang kuat dalam menarikpeminat. Tapi apakah itu baik atau tidak, perdebatannya masih belum berakhir. Untuk itu, pada kesempatan kali ini kami menghadirkan seorang Luki Ali. Fashion photographer yang belakangan menjadi satu nama yang sangat diperhitungkan di bidangnya ini ternyata memiliki pemikiran dan spirit yang luar biasa matang.
Pada awalnya Luki hanyalah seorang pemuda yang senang mencari media untuk mengeluarkan unek-unek. “Saya suka nulis, musik, painting. Intinya cari cara untuk nuangin unek-unek.” Ungkapnya. Ia merasa perjalanannya di fotografi mungkin hanya jadi satu bagian dari proses eksplorasi yang masih terus dilakukannya.
Perkenalannya dengan fotografi terjadi ketika ia mendapat hadiah ulang tahun berupa kamera poket pada tahun 2005.

Iseng-iseng memotret hal-hal sederhanamalah berujung pada tawaran memotret untuk majalah. “saya sangat beruntung karena hampir nggak ada usaha untuk masuk majalah. Tapi kesempatannya
malah datang.” Tegasnya.Tahun 2007 Luki Ali belajar fashion photography selama 2 bulan di Italy. “di sana saya belajar sejarah, teknis, fashion, make up, hair style, branding, dan macam-macam.” Kenangnya. Setelah menyelesaikan pendidikannya Luki kembali ke Indonesia dan mulai merintis karirnya sebagai fashion photographer dan mendirikan majalah fashion photography DEW. Fashion photography menurut Luki adalah tentang menjual produk.

“Pentingsekali bagaimana seorang fashion photographer mengerti produk, market dan harga dan bagaimana cara menjual produk yang ia foto.” Tegasnya. “Bukan masalah style. Produk yang sama bisa aja gayanya berbeda di market yang berbeda. Untuk itu fashion photographer nggak boleh egois.” Lanjutnya. “Kita ini bukan artis. Kita hanyalah fashion worker” tegasnya lagi. Sayangnya Luki melihat banyak yang masih belum mengerti perbedaan mendasar antara fashion worker dan fashion people. “Banyak yang merasa being a fashion photographer is cool. Padahal enggak. It’s not cool at all.” Tegasnya. “Mungkin mereka merasa keren karena fashion photographer dapat undangan di mana-mana. Mulai dari fashion show sampai gathering lingkungan fashion.

Padahal sebenarnyacapek.” Sambungnya lagi. Luki beranggapan bahwa banyak orang tertarik menjadi fashion photography karena hanya melihat hasil dalam framenya saja. Tapi mereka tidak melihat prosesnya. Persiapannya. Di luar framenya yang begitu berantakan dan melelahkan. “Being a fashion photographer artinya harus up to date. Setiap tahun label mengeluarkan baju baru 4 kali. Itu baru dari 1 brand. Belum lagi termasuk make up, rambut yang juga ada trend yang terus berkembang. Jadi benar-benar melelahkan untuk keep up to datenya.” Tegasnya.

Masih berbicara mengenai fashion photo, Luki beranggapan bahwa pemahaman seorang fotografer terhadap produk yang difoto adalah harga mati. “picture harus telling a story tentang siapa yang pakai. Jadi bukan sekedar apa yang kita suka, tapi seperti apa penggunanya.” Ungkapnya. “Fotografer fashion nggak bisa memaksakanstylenya pada fotonya. Bisa jadi foto bagus tapi produknya nggak laku karena fotonya tidak sesuai dengan marketnya.” Sambungnya. Setiap negara juga punya ciri khas dan karakter fashion fotonya masing-masing. “New York kesannya dinamis, London lebih kea rah street, Paris mewah
tapi sedikit urakan.” Tegasnya. Luki melihat penting bagi Indonesia untuk menemukan karakternya. “Yang harus diperhatikan adalah jangan terlalu local karena jadi sulit dicerna market international. Jadi terkadang harus di-blend dengan bahasa universal”. Sambungnya.
Read Post | komentar

3 hal yang sangat penting untung menghasilan hasil karya yang menjual



Dalam Fashion Photography sebenernya penggabungan antara Dunia Fesyen dengan Dunia Fotografi, yang keduanya saling menyatu. perlu peranan model serta para fotografer profesional yang mampu mengambil "one shot" menjadi suatu karya 2 dimensi yang dapat memukau orang lain terutama para konsumen karena ini termasuk pendukung dalam bisnis fesyen atau pun kosmetik dan lainnya.

Dalam dunia gabunga ini "Fashion Photography"
ada 3 hal yang sangat penting untung menghasilan hasil karya yang menjual.
yakni:

1. Fashion (Tata Busana)
fesyen ini sangat berperan karena busana yang dikenakan para model harus keren, unik tapi tidak boleh berlebihan dipadukan dengan tema buasana dan warna sebagai daya pikat tersendiri itulah seni dari tatabusana.para desainer terkenal yang sudah punya merek dagang tersendiri pun punya kelebihan ataupun keunikan dari mode mode yang dikeluarkan tak heran dalam pagelaran para model mengenakan tema pakaian sampa dandanan pun mirip sekali.





2. Model (boneka fashion)
para model inilah boneka dalam fashion, coba bayangkan jika tak ada model lantas pakaian nya diapakan ? nah garis besar para model itu baik laki laki maupun perempuan tidaklah cantik maupun tampan tapi punya keunikan dan kekhasan masing masing dan pula "personality" itu sangat penting yaitu kepribadian yang baik dan sopan. menurut pandangan gue para model kebanyakan memiliki tulang pipi yang kuat bisa dikatakan peyot namun itulah keunikan para model dan tak lupa para model tidak semua cantik seperti mariah carey adapula yang standart tapi mereka "Fotogenik" itu yang terpenting dalam mengeuti karir model cantik saat di foto, pintar mengambil eagle yang pas dan cakap itu yang wajib ! tak heran mata model dalam foto itu sungguh menawan dan memberikan arti dan suatu cerita dalam foto yang dihasilkan. mau tau legend dunia modelling itu ialah Tyra Banks, ia sampai dibuat boneka lilin di museum maddam tausand lho hebat.

3. Fotografer profesional
siapa yang mengambil gambar ? tidak salah lagi kalau bukan para fotografer yang profesional tentunya karena ini sangat berpengaruh pada hasil apabila model nya menawan pakaiannya menjual namun foto yang dihasilkan tidak dapat menutupi segala keindahan yang lainnya. ini akan membuat suatu ketimpangan tersendiri. lihai menggunakan kamera SLR lihai memainkan cahaya, lihai mengedit gambar supaya lebih sempurna itulah fotografer. dalam Fashion para fotografer harus peka terhadap gaya berfoto para model agar lebih dan lebih mengagumkan.
Read Post | komentar

disaat dunia fashion jenuh akan eksekusi fotografi yang monoton



Rentang perjalan dunia mode dunia sudah sepanjang peradapan manusia itu sendiri, tak pernah lepas diri kita akan busana yang kita gunakan dan bagai mana sebuah rancangan mode seorang perancang mode mengubah cara hidup kita, dan bagai mana kita memandang diri terhadap linkungan dan budaya.

Berkembang seiring dengan dunia mode, menciptakan secara pasti sebuah aliran yang sangat berkembang secepat perkembangan dunia mode itu sendiri, dan seiring mereka memberikan nuansa yang tak lagi menjadi apa yang awalnya diciptakan, tidak lagi sebagai medium acuan atau sebagai foto produk, ia berefolusi menjadi sebuah bentuk hasil olah rasa yang tinggi. Foto fashion tidak lagi berbentuk foto produk tapi berkembang menjadi aliran yang mengutamakan artistik tinggi yang mewakili rancangan itu sendiri dengan tingkat persaingan dalam menjual ide, konsep dan tidak hanya dari sisi rancangan mode, tapi juga tehnik fotografi, tata make-up dan rambut, tata gaya, tata ruang dan lain sebagainya yg menghasilkan sebuah karya seni. Banyak fotografer mode yang dalam bekerja tidak hanya mengandalkan crew (asistennya) saja tapi mereka sangat membutuhkan dan saya rasa kedudukan mereka sama dengan si fotografer, tak lain adalah sang fashion stylist, yg sangat bertanggung jawab akan keserasian mode yg dikenakan dengan konsep, ide dan mood yang akan dibangun oleh sang fotografer, atau yang diinginkan oleh client mereka. Satu orang lagi yang tak kalah pentinggya adalah si Make-up artist, dia juga sangat berpengaruh dalam menyulap seorang model yg tampak biasa menjadi seorang diva.

Banyak kita lihat karya-karya maestro fashion yang sangat elegan dan cantik dipamerkan diruang publik seperti bilboard, poster dan juga majalah-majalah mode. Jika kita ikuti perkembangannya dari tiap era maka apa yang dihasilkan oleh seniman foto atas sebuah rancangan mode tersebut selalu mewakili era tersebut, seperti era 40-an diman wanita masih sangat feminim dan tegar, kuat, namun sederhana, maka ide dan konsep fotonya tidak akan jauh dari foto2 yang menggambarkan sebuah garis rancangan mode yang sangat elegan dan glamour. Masuk dalam era psychedelic (70-an) atau yang kita kenal dengan generasi bunga, dimana semua gerakan ditujukan atas penentangan atas perang, maka mode dan konsep fotonya pun banyak yang tidak jauh dari gambaran mimpi, keindahan surga yang dicapai dari segala bentuk obat-obatan yang menjadi prima dona pada era itu.



 
Dalam perkembangan dunia foto fashion saat ini terjadi sebuah pengulangan bentuk penggarapan yang tercipta akan ispirasi masa-masa kejayaan duani fasion 40, 60-70-an, di mana masa 80 merupakan masa kegelapan dunia mode. Saya rasa era 80-an ini sudah dilupakan, karena ini adalah tahun dimana semua orang berlomba untuk menjadi orang aneh, fashionnya sangat artificial, namun memiliki khasnya era tersebut, era cupu kata anak sekarang. Penterjemahan akan sebuah konsep foto atas sebuah mode, tidak lagi terbatas akan era yang diwakilinya, banyak fotografer yang sudah merasa jenuh dengan gaya dan ide yang sangat monoton, yang hannya menonjolkan garis-garis rancangn dari sang perancang mode, atau sang perancang mulai menutupi rahasia rancangannya agar tidak mudah di bajak seperti vcd dan dvd yang dengan mudahnya didapat di glodok dan ratu plasa, hemmmmm siapa yang tau.

Di mana batas antara sebuah foto porno, art nude dan foto sopan sudah tidak ada batas, maka makin meraja lela ide dan konsep yang disodorkan ke halayak penikmat mode, seperti kita liat foto-foto promo produk Guess, yang sangat jelas membaurkan batasan-batasan antara sensualitas dan keindahan (bisa tubuh, bisa produknya bisa yang …..). Atau rankaian foto promo produk Dior, dengan model yang berkeringat disekucur tubuhnya dan menari bak cewek yang sedang menikmati sensualitasnya, atau Burberry, sebuah produk baju yang dgambarkan dengan seorang wanita berpenampilan dengan kelas yang sanagt jelas yautu golongan A dengan baju seperti era 40-an namun sedikit nakal, digambarkan dengan cara duduk si model yang seperti laki-laki sehingga tersingkap belahan bagian tengah rok tersebut hingga tersingkap -maaf- celana dalamnya, namun dengan eksekusi hitam putih dan set ruang dan tata gaya yang sangt menunjang foto ini tidak tampak foto murahan dan yg bisa mengundang kaum feminis mengamuk…tidak sama sekali.



Kini eksploitasi sex tidak lagi ada perbedaanya di dunia fotgrafi, disaat dunia fashion jenuh akan eksekusi fotografi yang monoton, eksekusi semacam ini menjadi sebuah pencerahan dan memang sex adalah sumber inspirasi yang tidak pernah habisnya, seperti kitab Kamasutra, yang selalu ingimn digali dan difahami sebagai sebuah gaya hidup modern. Dimana posisi-posis gaya yang awalnya hanya dilakukan oleh bintang-bintang porni atau panggung penari erotis, kita bingkai-bingkai foto itu dipindahkan oleh fotografer-fotografer abad ini ke lembar foto atau majalah fashion sebagai bentuk seni yang tidak murahan, seperti Bhetina Reims, David Lachapelle, Jurgen Tylor, Mchiell Thomson, Nick Knight, dan masih banyak lagi, mereka bukan fotografer kacangan atau yng baru muncul, eksekusi mereka tidak lagi berdasarkan tehnik semata, tapi berdasarkan konsep, bmereka bekerja berdasarkan konsep, ide dan fashion itu sendiri.

Makanya jangan heran jika kita melihat hasil jepretan mereka dimajalah fashion seperti Vouge, iD, W, V, Bazzar, Surface, dll, sangat seksi, sangat sexual tapi indah, cantik dan mempesona, namun bukan karya porno.
Selamat datang di dunia mode, semoga anda bisa menikmatinya….
Read Post | komentar
 
© Copyright fashiongraphers 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all